Dompet duafa

Ahlinya Sablon Spanduk Kain

Ahlinya Sablon Spanduk Kain
Spesialis cetak/sablon spanduk kain promosi,SPANDUK KAIN Dwitama Advertising Benda Baru, Pamulang, Tangsel Telp, 813 8468 1151

Angka vs Nyawa: Polemik Ucapan Presiden tentang Keracunan Makan Bergizi Gratis

Di balik senyum anak-anak penerima Makan Bergizi Gratis, muncul pertanyaan besar: apakah negara sudah memastikan setiap menu benar-benar aman? Ketika keracunan disebut “masih manusiawi”, publik mengingatkan bahwa satu korban pun tetaplah manusia, bukan sekadar angka.

Angka vs Nyawa: Polemik Ucapan Presiden tentang Keracunan Makan Bergizi Gratis

JAKARTA — Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut angka keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) “masih manusiawi” karena hanya sekitar 0,0007 persen menuai reaksi keras dari masyarakat. Kritik mengemuka bukan semata pada besaran angka, melainkan pada cara negara memaknai keselamatan manusia.

Di ruang publik, pernyataan tersebut dianggap berpotensi mereduksi penderitaan warga menjadi sekadar statistik. Publik menilai, dalam konteks kesehatan dan keselamatan, satu korban pun terlalu banyak, apalagi jika menyangkut anak-anak sebagai penerima manfaat utama program MBG.

“Bahkan jika hanya satu orang yang keracunan, itu manusia, anak dari seseorang,” demikian salah satu kritik yang ramai disuarakan warganet. Pandangan ini menegaskan bahwa angka persentase tidak mampu menggambarkan rasa sakit, trauma, dan dampak psikologis yang dialami korban.

Program MBG sejatinya dirancang sebagai kebijakan strategis untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Namun, insiden keracunan memunculkan pertanyaan serius tentang standar keamanan pangan, mulai dari pengadaan bahan baku, proses memasak, higienitas dapur, hingga distribusi makanan.

Pengamat kebijakan publik menilai, penggunaan narasi “masih manusiawi” berisiko menormalisasi kelalaian. Negara justru diharapkan menerapkan prinsip zero tolerance terhadap risiko yang membahayakan kesehatan rakyat, terutama kelompok rentan seperti anak sekolah.

Dalam isu publik yang menyangkut nyawa manusia, bahasa seorang pemimpin memiliki bobot besar. Masyarakat tidak hanya menuntut efektivitas program, tetapi juga empati dan tanggung jawab moral. Keberhasilan kebijakan tidak semata diukur dari cakupan dan angka statistik, melainkan dari sejauh mana negara mampu melindungi setiap warganya tanpa pengecualian.

Kritik terhadap pernyataan Presiden ini menjadi pengingat bahwa kebijakan sosial berskala besar harus diiringi evaluasi menyeluruh dan komunikasi publik yang sensitif. Sebab, bagi korban dan keluarganya, nyawa tidak pernah—dan tidak boleh—menjadi sekadar angka.

Spanduk Kain Digital Printing

 #MakanBergiziGrati #KeracunanMBG#PrabowoSubianto#KebijakanPublik#KesehatanAnak#KeamananPangan#HakWargaNegara#OpiniPublik#BeritaNasional

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Angka vs Nyawa: Polemik Ucapan Presiden tentang Keracunan Makan Bergizi Gratis"

Posting Komentar